Perempuan Berkerudung Air Mata


lukisan Nani Sakri diunduh dari http://www.tembi.org/cover/2010-02/20100216.htm

Perempuan Berkerudung Air Mata

Adakah kepedihan suatu pilihan?

Tibatiba kau bisikkan sesuatu itu dengan lirih. Dan di bola matamu
ikan yang tadinya bersenda
kini kaku batu. Menatap kearahku

Di dekatmu
perihal yang kau tanyakan itu
bukan mengada aku tetap mengasihimu

Seperti halnya saat ini
kala musim panas menjadikan samudera meluap
kuajak dirimu menatap dian-dian kecil di ruang bahtera
yang nyala apinya kujumput dari gerai hitam rambutmu
atma
yang keluar dari lingkaran labirin

( Di atas bahtera, angin yang pukau, kini desau. Juga
dua bola matamu kian tujah, tuliskan sajaksajak bisu di mural jantung
: Tentang luka,juga
tentang sekaleng susu yang tibatiba terbawa arus air mata, kau ibu anakku )


Degup jantung pun mengeja hurup
setiap kali kudapati kantuk matamu tersenyum tulus
terselip di lipatan-lipatan popok yang habis kau seterika
biar telah lelah terjaga tiap tengah malam
bangun,mengganti popok anakmu

O, jantungku kian debar
di tubir Cinta
kurasakan matahari membakar raga
malam; pisaupisau kematian
membaca sunyi

Dimana ia-nya (kebahagiaan) berada?

tanya yang tak sengaja kubaca dari tatapan matamu
bisu, sebisu-bisunya perasaan yang entah
kemana lalu kau meniadakannya
menggantikan dengan serupa mantra
lembut di telinga anakmu

: Cinta itu api
lidah apinya membakar jiwa juga
derita. Kasih

Jikalau airmata ini mengalir
biar menjadi kunci
membuka pintu langit
dan kedukaan itulah kebahagiaan
manakala dian-dian kecil tetap menyala di ruang bahtera

bisikmu; harapan seorang ibu
tulus

( selepas subuh, sesaat setelah kau tanak sesak nafasmu, sekali lagi kuarungi samudera matamu yang embun. Dan kini di atas bahtera, kala kembali menatap langit, kudapati burumg berkata-kata pada angin, tentang bayi serta seorang perempuan berkerudung airmata yang berlari-lari di terik padang pasir, dari Shafa ke Marwah, tak keluh, mencari mata air kehidupan, juga untuk anaknya, setulus kasih ia-nya persembahkan kerudung airmata, mengetuk pintu langit. Dan perempuan itu, serupa dirimu, istriku, pun ibu yang tiada berbatas dalam mencintai anak-anaknya. Biar luka, biar duka, juga
biar sekaleng susu yang tibatiba terbawa arus air mata )


___________________________________________________________
@ Imron Tohari _ lifespirit, 21 mei 2010, rev 31 Mei 2010

Kamus kecil :

atma : jiwa; nyawa; (Hin) roh: akhirnya -- Lubdhaka, setelah hari kematiannya, bisa masuk surga
labirin: tempat yg penuh dng jalan dan lorong yg berliku-liku dan simpang siur; sesuatu yg sangat rumit dan berbelit-belit (tt susunan, aturan, dsb)

tubir: tebing (jurang dsb) yg curam; tepi sesuatu yg dalam (spt tepi jurang, tepi kawah, tepi sungai); tempat yg dekat sekali dng tepi sesuatu yg dalam (spt tepi jurang); tempat yg dalam sekali (di laut dsb); ki keadaan yg hampir pd sesuatu yg sangat berbahaya (mati dsb)

0 komentar:

Posting Komentar