Epilog "KATARSIS" Karya Hadi Napster



Membaca “KATARSIS” by lifespirit


Ketidaksempurnaan dan kerusakan, yang terlihat di mana pun,
semuanya adalah cerminan keindahan.
Pengatur tulang, di manakah dia dapat mencoba ketrampilannya
kalau bukan pada persendian yang patah? Penjahit di mana?
Tentunya bukan pada busana siap yang indah potongannya.
Bila tiada tembaga kasar ditempat peleburan,
bagaimana ahli kimia dapat mempertunjukan keahliannya? (Jalaluddin Rumi)


Penciptaan karya sastra puisi,sajak,syair, merupakan hasil dari suatu proses pengamatan dan atau bahkan pengalaman pribadi penulisnya yang selanjutnya memantik simpul-simpul kejiwaan/pyscologis dan atau menyentuh sisi kerohanian pengkarya cipta (Baca:Penyair) yang disampaikan dalam bentuk lisan dan atau tulis, dengan suatu tujuan memberi kebaharuan piker pada dirinya pribadi selaku pemilik fisik karya, serta pada penghayat/penikmat baca selaku pemilik hak atas makna yang ditangkap dari symbol-symbol bahasa yang tersirat pun tersurat pada tubuh karya secara utuh dalam menyikapi serta memandang hakikat kehidupan di masa depan.

Penulis puisi/sajak ( untuk selanjutnya akan saya sebut penyair ), ketika menulis sebuah karya atas dasar pengalaman pribadi dan atau pengamatan terhadap kondisi sekelilingnya yang didasari dengan penghayatan yang benar-benar keluar dari bilik hati terdalam, akan melahirkan suatu karya puisi yang bernas (baca: berjiwa) dan mampu menghisap pembaca atau penghayat untuk masuk kedalam ruh makna puisi yang dibacanya, yang selanjutnya akan menarik piker kekinian penghayat dalam memaknai hakikat kehidupan yang memancarkan sinergis positip.

Memang kita tidak pernah tahu apakah puisi yang diciptakan penulisnya hanya merupakan olahan imaji serta hanya berlandaskan teknik kemampuan menyusun bahasa indah sahaja, atau apakah puisi tersebut dicipta berdasarkan perpaduan imaji piker pencipta karya yang dilandasi juga nilai-nilai hirarki kejujuran rasa piker pun ketulusan hati dalam melahir karya tersebut. Tapi biasanya karya puisi yang hanya ditulis berdasarkan imaji dan mengandalkan teknik keindahan bahasa saja, akan kering makna. Dalam pengertian tidak akan meninggalkan kesan yang mendalam pada penikmat baca.

Dan membaca beberapa puisi Hadi Napster yang tergabung dalam kumpulan buku puisi bertajuk “KATARSIS”, saya selaku penghayat langsung dihadapkan pada dunia renung spiritual transcendental, baik secara horizontal ( manusia dengan manusia, manusia dengan alam berserta segala elemen penyertanya ), maupun secara vertical ( hubungan manusia dengan Tuhannya beserta segala misteri yang menyelingkupinya ). Bahkan pada beberapa puisinya, imaji rasa saya berseakan disedot pada suatu pusaran duka yang teramat sangat atas sesuatu hal ketidaksempurnaan kehidupan yang tengah dialaminya, namun pada kondisi tertentu, tiba-tiba imaji rasa saya berseakan ditarik keluar untuk selanjutnya diajak masuk kedalam dunia renung yang maha dalam akan hakikat kehidupan yang sebenarnya. Dan hal tersebut saya rasakan pada puisinya yang berjudul “Hikayat Malam”, “ Puja”, “Singgasana Remang”, dan “Katarsis”.

Saya tukilkan dua puisi termaksud yang saya katakan di atas :

di atas kertas buram
kucipta dosa menyairmu diam-diam
tiada sendiri pernah dambakan malam padam
selayun bulan bahkan masih cumbui berang dendam
ke mana hilangmu karam?

ah, teruk nian mata kan pejam
sebab pilunya serupa jeram
mengubur hamba ke genggam sekam

namun tetap jiwa semayam
padaNya jua segala paham

( Petikan bait 1,3,4 puisi “Hikayat Malam”)


Pagi masih buta
Sajakku telah bergelut dendang surga
Mencari mantra di antara sembab luka
Tak ada !

Lalu beringsut ke candu zina
Ratapi dusta dan nikmat dunia
Oh, betapa teruk dahaga

Pagi masih buta
Kekasihku mengirim sepatah kata
Rindu membuncah dara
Cinta nyala !

( Puisi lengkap “P U J A” )


Bukan itu saja, bahkan pada beberapa puisinya yang bertemakan tanah air, saya merasakan detak duka (baca:keprihatinan) Hadi Napster pada kondisi kekinian negeri tercinta di mana dia berpijak, dan agar olah rasa pikernya bisa diserap penikmat baca dengan mudah, Hadi Napster menuangkannya dengan bahasa lugas nan membumi namun tetap menjaga estetika bahasa, seperti pada puisinya yang berjudu BALADA WNI, IKHTISAR SUJUD HAMBA, KASIDAH POJOK NURANI.

Dalam meneriakkan kegalauan rasa akan kondisi Negeri tercinta ini, Hadi Napster tidak lantas mengumbar emosi yang meledak-ledak dalam penyampaian kata, seperti yang sering kita temui pada karya-karya puisi dengan tema sejenis yang dituang semodel puisi pamphlet, Namun justru Hadi Napster di sini seakan ingin menunjukan kalau model tuang puisi pamphlet dengan tema tanah air bisa juga disampaikan dengan lembut dan indah dalam balutan rima, yang justru daya hisapan imaji rasa ke penghayat kian bunyi.

BALADA WNI

koarku dari kampung
seantero negeri kian linglung
tabur harap, hampar doa, kepada mendung
gaung proklamasi ranggas diterpa magrur beliung

janin-janin mati bingung !
sebab ibu mulai bosan mengandung


apa kabar, Pancasila?
katanya kau tak sedang baik-baik saja
terpingit tirau reot jambar bangsaku nan kaya
tangis pecah buncah, rakyat gelisah orion entah ke mana

jawab tuan ; besok saja !
malam ini jadwal nonton chaiyya-chaiyya


para suami lesu murung
mengeja kasih Tuhan yang agung
sang istri pasrah membuang diri ke semenanjung
di pengap panti asuhan, anaknya asyik belajar berhitung

sampan karam, patah pula dayung
padahal kami warga tanah pertiwi adiluhung


maladaptasi racuni nusantara
lelah mahasiswa teriak membabi buta
guru-guru honor tercekam wabah insomnia
pupus keadilan terlindas titah parlemen sarat amnesia

jutaan luka duka, tetap satu cinta
benyanyi kita bersama : “hiduplah Indonesia raya...”

Bandung, 14 Mei 2011


IKHTISAR SUJUD HAMBA

Perseteruan pagi
Mimpi-mimpi ambruk menyerta gravitasi
Kian senjang jejal doa dan wangi bangkai
Lantas aleksia rasuki otak-otak eselon negeri
Pertanda adiwangsa mati suri?
O, makhluk bumi
Maulaya, hamba, ahlulkubur, dengki!
Mengapa kalian tidur di ibtida darma duniawi?

Telah habis seloka pujangga
Afwah moyang terkapar ratapi gugurnya kembang akasia
Pancaroba menggila, jangkiti nadi mayapada
Remukkan setiap sembada
Menista akmalNya laksana aedes menguras darah manusia
Sementara roh semakin jauh dari nafas raga
Bergelantung di selayun ladang janji sarat dusta
Harapkan bangsa masih menyimpan sedikit skenario melodrama

Puisi-puisi terlalap api
Sibuk berdiksi tentang cinta, pun ajnas merah birahi
Mujtamak diabai, ikram ahadiatNya terludahi
Sebab kebanyakan akademisi asyik bermain filosofi
Lalu bagaimana akhwan kami?
Adakah mereka sadar pada ketamakan yang terjejali?
Atau kelak tercipta lagi dagelan baru di sini?
Ah, andaikata taibah ahsan sedikit saja menghampiri
Tentulah nurani tak akan terkubur oleh ambisi

Pertikaian senja
Malam-malam lupa rahim ibu seketika
Nisan ayah melarung duka saksikan tawa warnai zina
Pun bilamana jiwa ronta, apalah daya?
Zakiah surga tinggal cerita
Seminau kitab terpanggang bara di alam baka
Sakral apa masih pantas dipuja?


Yogyakarta, 26 Maret 2011


KASIDAH POJOK NURANI

pergilah kepada bara
taburkan abu nyanyi sunyi
bila mendung rintih kekasih
sedikit rindu barangkali

datanglah kepada malam
jadikan gelap rindang terang
jika mimpi pecah pepatah
tangisan negeri bisa jadi

pergilah kepada luka
jadikan darah rampai rangkai
ketika adil berpihak letak
kenanglah ibu sesekali

datanglah kepada nisan
lantunkan doa degup letup
kala cinta mewujud sujud
di hatiNya kita sembunyi


Jakarta, 21 Februari 2011


Mencermati isi dan judul buku “Katarsis”, yang berdasarkan KBBI bermakna setara dengan penyucian diri yang membawa pembaruan rohani dan pelepasan dari ketegangan; cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf dengan membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dengan bebas; kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan atau pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis, tampak sekali pada karya-karyanya yang terangkum pada buku kumpulan puisi bertajuk “KATARSIS”, Hadi Napster melalui bahasa-bahasa kias ingin menyampaikan pada penikmat baca bahwasannya dalam setiap kehidupan, baik itu kehidupan yang berkaitan dengan hubungan antar kekasih, kehidupan bernegara, dan atau bahkan kehidupan pribadi individu yang tentunya tidak luput dari segala coba duka nestapa, namun tidaklah patut untuk kita terus meratapi ketidak sempurnaan kehidupan ini, karena justru dari adanya ketidak sempurnaan itu banyak hal yang bisa kita perbuat menjadi baik bagi diri secara pribadi maupun bagi sesama secara keseluruhan dari hakikat hidup yang sebenar-benarnya, seperti yang dia tulis pada bait awal puisinya yang judulnya sekaligus dijadikan tajuk kumpulan antologi puisi tunggalnya ini, seperti yang saya petikkan di bawah ini :

ketika padaku fukara bertanya
di mana nila sejuk telaga?
lelehkan sejenak lara

( Bait pertama dari puisi berjudul “KATARSIS” )

Dan sontak bait pertama puisi ini mengingatkan saya pada makna yang terkandung dalam salah satu puisi penyair sufi Jalaluddin Rumi yang bertajuk “HIKMAH KETIDAKSEMPURNAAN ; Jalaluddin Rumi : Ajaran Dan Pengalaman Sufi, Reynold A. Nicholson, Penerbit Pustaka Firdaus,1993”

Ketidaksempurnaan dan kerusakan, yang terlihat di mana pun,
semuanya adalah cerminan keindahan.
Pengatur tulang, di manakah dia dapat mencoba ketrampilannya
kalau bukan pada persendian yang patah? Penjahit di mana?
Tentunya bukan pada busana siap yang indah potongannya.
Bila tiada tembaga kasar ditempat peleburan,
bagaimana ahli kimia dapat mempertunjukan keahliannya? (Jalaluddin Rumi)

Dan bukan tidak ada alasan bila saya sertakan diawal tulisan ini satu bait karya penyair sufi Jalaluddin Rumi, tersebab Semakin saya masuk ke dalam alam kontemplatif karya puisi Hadi Napster yang tergabung dalam “ Katarsis, saya selaku penikmat baca tanpa sadar dihisap dalam dunia renung yang begitu hening, dan dalam keheningan imaji rasa saya tersebut, saya berseakan bersentuhan dengan denyut kegelisahan penyair akan sesuatu hal yang dirasa menjadi beban berat untuk ianya (baca: aku lirik) dalam menangung ketidak sempurnaan yang ada pada diri aku lirik tersebut, dan tiba-tiba pada keadaan lain kesadaran aku lirik seakan membetot imaji rasa saya selaku penikmat baca masuk kedalam suatu pusaran yang begitu cepat dan membentuk suatu lorong yang kian mengerucut ke dalam dunia renung akan hakikat kebesaran Tuhan dan kita sebagai umatNya sudah semestinya tabah serta tawakal menjalani lelaku hidup seperti yang telah digariskan.

Dalam keadaan yang serba gelisah akan apa yang tengah dihadapinya sebagai cobaan Allah SWT, Hadi Napster yang tiga tahun lalu telah divonis dokter mengidap penyakit kangker otak (saya mewartakan penyakit yang diindap penulis ini bukan bermaksud untuk mengharubirukan keadaan yang bersangkutan, namun semata saya menuliskan hal tersebut di sini, dengan suatu harapan bisa dipetik nilai-nilai semangat penulis yang tidak menyerah oleh keadaan atas kesehatannya selama ini untuk berkarya cipta, sekaligus untuk pencarian jalan kebenaran menuju kedekatan cinta pada Allah SWT ).

Sebagaimana yang dikatakan oleh Teeuw : “Sastra adalah jalan keempat untuk mencari kebenaran, setelah agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan.” , melalui gurat karyanya ini Hadi Napster ingin berbagi untuk jiwanya yang letih dan juga bagi pembaca yang mungkin menghadapi cobaan yang sama seperti halnya dirinya, agar tetap tabah serta tawakal, tetap yakin bahwa ketidak sempurnaan yang ada pada diri tidak menutup jalan menuju kebaikan bagi sesama dan juga kebaikan hakiki di jalan Tuhan.


Salam lifespirit!

Imron Tohari _ lifespirit, 17 Juni 2011

Mengenang Esais,Penyair, sekaligus Penggiat Sastra Cyber Loektamadji A Poerwaka (






Hakikat do yang do

do
doremifasolasido, tapi tak
doremifasolasi, tapi tak
doremifasola, tapi tak
doremifaso, tapi tak
doremifa, tapi tak
doremi, tapi tak
dore, tapi tak
do, tapi tak
do,
tidak tak remifasolasido

hanya do
tak tapi bunyi
do
padada nada

@ lifespirit , 27 Januari 2009, editing by DaveSky



Menikmati puisi Imron Tohari (IT) “ Hakikat do yang do”

Katakanlah “Hakikat do yang do” adalah “sesuatu”, lalu bagaimana sesuatu akan didiskripsi. Manusia tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk dapat mendiskripsi sesuatu itu secara lengkap sehingga sesuatu itu hanya ada sebagai sesuatu itu sendiri, bukan lainnya. Engkau tentu akan bertanya mengapa? Selalu saja manusia berkaitan dengan yang ada bukan yang tidak ada. Katakanlah puisi IT ini, adakah ada dari yang tidak ada lalu menjadi ada atau dari yang ada menjadi ada. Saya berpendapat kalau puisi ini ada dari yang ada. Ada dapat menyangkal dengan membuat argumentasi “Tadinya kan tidak ada puisi seperti ini di dunia, kemudian IT menggubahnya menjadi ada, jadi puisi IT ini ada dari yang tidak ada”. Coba kita tanya lebih lanjut bukankah adanya puisi ini karena adanya IT, adanya IT karena ada air,ada tanah, ada api, ada kayu dan segala ada yang lainnya. Pada ujungnya, segala ada karena ada yang yang selalu ada, yaitu yang Maha Ada.

Kembali kepada pembicaraan. Manusia tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk dapat mendeskripsikan sesuatu itu lengkap sehingga sesuatu itu hanya sebagai sesuatu itu sendiri, bukan lainnya. Katakanlah yang mudahnya adalah gula. Apa itu gula, dari segi bentuk kita dapat mengatakannya sebagai butir, tepung atau lainnya. Dari segi warna kita dapat mengatakannya sebagai putih, coklat, merah dan atau lainnya. Dari segi rasa kita dapat mengatakannya sebagai manis. Dari segi nama kita dapat mengatakannya sebagai gula pasir, gula merah, gula coklat, gula batu, gulai bit, sakarin, dan lainnya. Apakah kalau kita sudah mengetahui semua itu lalu kita dapat mengatakan dengan pasti bahwa sesuatu yang seperti itu adalah gula. Saya hanya mengatakan mungkin itu gula mungkin juga lainnya (bukan gula). Menurut saya apa yang kita bicarakan bukanlah “gula” tetapi “tentang gula”.

Lalu bagaimana kita dapat menyatakan sesuatu itu. Sesuatu tidak dapat dinyatakan karena hanya dapat didekati. Sesuatu itu hakikatnya transenden, melampaui semua kata kata atau diskripsi. Jalan termudah untuk menyatakan sesuatu itu apa, adalah dengan mempersepsi sesuatu itu melalui panca indra. Dengan cara seperti ini maka sesuatu akan menyatakan dirinya sendiri. Tentu cara ini akan merepotkan karena kalau kita ingin menjelaskan apa itu gajah maka harus ada gajahnya.

Cara lain menyatakan sesuatu adalah dengan menyatakan hal yang serupa misalnya merah adalah seperti warna apel, warna darah atau yang lainnya. Karena serupa tentu bukan yang sesungguhnya hanya mirip mirip saja. Cara lainnya lagi adalah dengan menyatakan bukannya. Seperti manusia adalah mahluk yang bukan hewan, bukan tumbuh tumbuhan, bukan benda mati dan bukan yang lainnya. Kalau bukannya dapat kita sebutkan semuanya maka diskripsi itu akan akurat karena sesuatu itu manjadi hanya sesuatu itu sendiri bukan lainnya.
Sekarang dengan pemikiran sebagaimana dipaparkan kita baca puisi IT yang saya kutip :

Hakikat do yang do

do
doremifasolasido, tapi tak
doremifasolasi, tapi tak
doremifasola, tapi tak
doremifaso, tapi tak
doremifa, tapi tak
doremi, tapi tak
dore, tapi tak
do, tapi tak
do,
tidak tak remifasolasido

hanya do
tak tapi bunyi
do
padada nada


Imron Tohari menjudulkan puisinya sebagai “Hakikat do yang do”. Apakah “hakikat do yang do”, dijelaskan oleh IT bahwa hakikat do yang do adalah do, doremifasolasido. Do supaya dapat dikatakan ada maka harus dinyatakan melalui padangan dunia atau “world view” tentang do yaitu doremifasolsido. Doremifasolasido adalah dunia tempat tentang konsep do mengada. Tetapi Doremifasolasido tidak pernah mengetahui apa do itu. Hanya do pernah bersabda “jangan serupakan aku dengan apapun, atau engkau akan kumasukkan ke dunia siksa”. Sebagian doremifasolasido mematuhi dengan meyakini bahwa do adalah bukan bagian bagian dari doremifasolasido, bukan doremifasola, doremifaso dan seterusnya. Ditegaskan lebih lanjut bahwa do adalah do yang tak berbunyi do karena bunyi do adalah bagian dari doremifasolasido, do hanya penanda nada, atau kata.

Do adalah sesuatu yang tidak dapat dikatakan dan diserupakan do adalah do yang wolrd view tak pernah bisa mendiskripsikan. Do adalah pengada yang selalu ada yaitu yang Maha Ada atau Tuhan.

Selamat menikmati, dan saya harus mengucapkan terima kasih kepada mas Imron atas pembangkitan kepenasaranku.

Salam
Loektamadji
(17 Februari 2011)


Mengenang Penyair dan Esais rendah hati Bpk. Loektamadji Arief Poerwaka yang meninggal Awal Agustus 2011.

salam lifespirit!

Esai : PUISI SANJAK RIMA POLA TUANG 4444 ala lifespirit!

lukisan by google



Puisi Rima Dengan Pola Tuang 4444

Ragam karya sastra baik puisi, prosa,sajak, dst, akan kian membuka pintu kreasi bagi penggiat sastra,pecinta sastra dan atau pencipta karya sastra itu sendiri. Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang dalam estetika bahasa pun estetika maknanya mampu memicu olah rasa piker penghayat dalam menggali kedalaman makna yang tersemat pada tubuh karya tersebut secara utuh.

Tumbuh kembang seni sastra puisi dari zaman ke zaman senantiasa melahirkan tekhnik-tekhnik dalam kepenulisan karya puisi dan atau sajak, seperti halnya lahirnya tekhnik-tekhnik baru dalam penulisan prosa, baik itu yang benar-benar baru, maupun tekhnik yang merupakan sempalan dari pola-pola tuang yang sudah ada sebelumnya. Dan memang harus seperti itu adanya agar seni sastra kian kaya ragam serta tidak jalan di tempat (Kalau tidak boleh dikatakan “Menjemukan”).

Berbicara mengenai pola tuang dalam berkarya cipta puisi dan atau sajak, saya termasuk salah satu orang yang tidak mau terikat pada salah satu medium tuang karya ( walau beberapa orang berpendapat bahwa dengan satu medium tuang akan memperkokoh identitas pengkarya cipta di mata penikmat baca/penghayat ), tapi saya punya alasan pribadi untuk itu, yang mana hal ini berkaitan dengan kenyamanan saya dalam berkarya cipta sehingga dengan begitu saya pribadi berharap bisa menyampaikan idea tema dengan maksimal.

Dan boleh dikata dari ketidakkonsistenan pola tuang yang saya pakai dalam menghasilkan karya cipta puisi itulah pada akhirnya simpul kreatif saya terulik untuk menciptakan suatu karya puisi dengan pola tuang rima berpeluk 4444.

Puisi dengan pola tuang 4444 ini saya ciptakan atas dasar ketertarikan saya pada karya sastra sajak,syair,pantun yang berbasis akar budaya tanah leluhur yang kita cintai. Berawal dari sana saya tergelitik untuk membuat puisi rima dengan aturan yang boleh dikata tak lazim, karena pola ini terdiri dari serangkaian tautan kalimat yang per kalimatnya hanya terdapat 4 huruf pada kata/kalimat ( kata dasar ) ; 4 huruf dalam satu kata/kalimat, namun dalam satu kesatuan utuh tubuh karya, dan harus tetap memenuhi unsur sajak baik secara estetika bahasa pun secara estetika makna.

Sekali lagi perlu saya tekankan di sini, bahwasanya acuan dasar dari pola 4444 berakar dari sajak yang merupakan salah satu karya sastra budaya leluhur, namun begitu pada karya ini (yang selanjutnya saya sebut sebagai puisi pola 4444, lebih menitik beratkan pada jumlah huruf pada kata dan jumlah kata pada baris serta jumlah baris pada bait. Sedang saya pergunakan rima berpeluk semata untuk mendapatkan efec rima (metrum) saat dibaca. Satu lagi pada bacaan puisi pola 4444 dengan rima berpeluk. Pembaca akan mendapatkan efek gema. seakan kita ditarik lagi pada bunyi akhir awal bait. tarikan rima di baris awal bait dengan bunyi rima akhir dibaris akhir pada bait yang sama menciptakan suatu arus gravitasi kata dan atau gravitasi bahasa yang berseakan memantul dan menimbulkan bunyi yang bergema. Contoh: perhatikan efek gema yang ditimbulkan oleh rima yang saya beri tanda ( ) di bawah ini :

Pada jiwa yang la(ut)
Arah tuju pada niat
Bila luka kamu Ikat
Suka cita akan ik(ut)

Ahai! Loba bola ma(ta)
Elok nian kamu nona
Akal bisa jadi lena
Bara bisa jadi ka(ta)


Jadi dalam penggunaan rima tidak boleh asal mengejar bunyi saja, dalam pengertian "mengejar bunyi" yang saya maksudkan di sini, yaitu tidak hanya sekedar mencari kesamaan rima di akhir kalimat saja, padahal secara bentukan alur baris dan atau antar barisnya tidak saling terkait maksud/makna, jadi di sini yang saya maksudkan jangan hanya mengejar bunyi rimanya sahaja. Dan mengenai asonansi; perulangan bunyi vokal dalam deretan kata dan atau penggunaan aliterasi ; pengulangan bunyi konsonan dari kata-kata yang berurutan, tidak mesti harus, yang pasti dasar pemikiran penciptaan karya ini sesuai dengan yang saya katakan diatas mengacu dari pola tuang sastra melayu pujangga lama tidak menyimpang dari pola rima berpeluk/berpaut, dan yang pasti tidak menyimpang aturan pola 4444.

Perihal jumlah huruf pada kata, akhirnya saya juga mendapati suatu kemungkinan baik atas elastisitas bahasa, dimana untuk kata tunjuk tempat adalah suatu hal yang mempunyai sifat khusus pada makna suatu kalimat bila tidak disertakan: di,ke, sehingga tidaklah mengapa bila lebih satu kata, bila kata tersebut merupakan satu kesatuan makna pada kata terkait. (di,ke). Hal ini berlaku juga untuk sesuatu kalimat/kata yang walau lebih dari 4 huruf dalam satu kalimat/kata,masih bisa ditolerir, bilamana Ianya, kata/kalimat tersebut menunjukan dan atau merupakan nama suatu tempat dan atau nama orang, misal: Negara;Masjid;Gereja;Pura;Vihara dst.

Dan pada akhirnya, semoga puisi pola 4444 ini tidak memberi dampak negative bagi tumbuh kembangnya sastra tanah air, namun justru saya berharap pola tuang sanjak rima 4444 ini memberi inspirasi walau sekiranya hanya serupa titik bagi penggiat sastra tanah air dan atau pecinta sastra dalam membawa sastra ke puncak ketinggian bahasa. Insyaallah. Amin3x

KUMPULAN PUISI POLA 4444 ala lifespirit

1) Sang Naga


Naga emas para Dewa
Liuk laun naik ke mega
Suci laku suci kata
Budi baik arak jiwa

Hong! fana pada akar

Inti kata pada arti
Bila tahu laba rugi
Jauh l dari aku ular

Pada bayu, kata Naga
Kamu Hong saya nari
Saya nepi jika duri
Fana, rugi atau laba?

Bila hati satu rasa
Hari hari luah suka
Lupa lara juga duka
Tuan, Nona, ikat kala

______________________________
@Imron Tohari _ lifespirit 8 July 2011


2) Yang Satu
: Prof. Dimas Arika Miharja


Ayah, pada laku usia
Usai baca duka hati
Budi, ilmu pada arti
Atma baik sepi luka

Kata ayah, akal fana
Kala kita haus ilmu
Biar jauh dari semu
Buka luas mata jiwa

Ayah, pada saat pilu
Kamu ikat luka lara
Kamu tata suka cita
Agar hati jadi padu

Kata ayah, umur, saru
Kini pada sisa usia
Bila bila tiba masa
Puja puji pada Satu

__________________________________
@ Imron Tohari _ lifespirit rev.5 July 2011




3) Pada Lima

Kala pati dera jiwa
Akal budi jadi mati
Bila haus puja puji
Hati buta mati rasa

Bila umat taat adat
Jauh cela jauh dosa
Biar raya biar jaya
Jaga niat yang kuat

Hayo kita sama laju
Ajak mata juga atma
Jaga tata pada lima
Pada niat yang Satu

Agar jauh duka lara
Laku baik saka diri
Bila padu visi misi
cita cita luah suka

( lifespirit 2009 rev. 5 July 2011 )


4) Ohai!


Pada jiwa yang laut
Arah tuju pada niat
Bila luka kamu Ikat
Suka cita akan ikut

Ahai! Loba bola mata
Elok nian kamu nona
Akal bisa jadi lena
Bara bisa jadi kata

Tapi, bila baik iman
laku diri akan taat
Pada tuju kian giat
Hari hari elok nian

Ohai! Nona mata jeli
Buka mata buka hati
Jaga laku jaga diri
Maut;ajal, satu kali


_______________________________
@Imron Tohari _ lifespirit 6 July 2011


je•li a 1 elok dan bercahaya (tt mata)


Karakter dasar penciptaan karya puisi pola 4444 ini, didasari :
4 huruf dalam satu kata/kalimat,
4 kata/kalimat dalam satu baris, , ( Di tolerir lebih satu kata, bila kata tadi berfungsi sebagai kata tunjuk tempat : di, ke )
4 baris dalam 1 paragraf/bait/larik,
4 paragraf/bait/larik membentuk 1 alur cerita,
bersanjak rima ( rima berpeluk/berpaut ) pada setiap baitnya.

5) Mati Suri

Pagi! Indonesia yang seri
Duka nian kamu Indonesia
Padi padi jadi bara
Lima sila jadi duri

Pada hati kami kata
Sila jadi meja judi
Para Tuan lupa diri
Jiwa jiwa luka: Kita?

Di Kota juga Desa: Sama
Sana sini gila uang
Meja meja gila Gong
Kini mati suri Indonesia

Di Masjid;Gereja;Pura;Vihara
Nada, sepi gema;bisu
Daun hati yang layu
Tapi, nadi kita Indonesia

_____________________________________
@Imron Tohari _ lifespirit 9 July 2011


Karakter dasar penciptaan karya puisi pola 4444 ini, didasari :

4 huruf dalam satu kata/kalimat,
4 kata/kalimat dalam satu baris, , ( Di tolerir lebih satu kata, bila kata tadi berfungsi sebagai kata tunjuk tempat : di, ke )
4 baris dalam 1 paragraf/bait/larik,
4 paragraf/bait/larik membentuk 1 alur cerita,
bersanjak rima ( rima berpeluk/berpaut ) pada setiap baitnya.


Indonesia; walau lebih dari 4 huruf dalam satu kalimat/kata, bisa di tolerir, sebab Ianya menunjukan dan atau merupakan nama suatu tempat: Negara;Masjid;Gereja;Pura;Vihara

si•la n 1 aturan yg melatarbelakangi perilaku seseorang atau bangsa; 2 kelakuan atau perbuatan yg menurut adab (sopan santun); 3 dasar; adab; akhlak; moral: -- dalam Pancasila saling terkait

Kacamata Dan Kata

lukisan by google



Kacamata Dan Kata
:/Hudan Hidayat


# 1

maka, lingkaran kaca itu
membaca sepi
sunyi yang
berayun di keramaian kata
punguti benda-benda
karenanya
orang terhisap
dibakar tungku-
tungku niscaya
; katamu


#2

di cerlang mata
kacamata itu filsuf
menjadikan kata baling-baling
tinggi menjulang ke langit bahasa

kapan ianya, kacamata dan kata
tak berayun sendiri
; katamu
_________________________________
@ Imron Tohari,lifespirit, rev.24 Juli 2011

Maknawi Cinta

lukisan diunduh dari allieallbright.wordpress.com


Maknawi Cinta


iakah cinta itu debaran hati yang tak kunjung usai
dari debar ke debur
dari debur kembali ke debar
semacam ketakutankah? atau cintakah?

di hati cinta
cinta itu tenang air telaga
di atasnya dua angsa menari-nari
dan tenang air telaga akan meriak
jikalau salah satu sayap angsa itu patah

o,di hati cinta
cinta itu semesta
di mana matahari dan bulan saling pukau
saling tujah

bisa jadi, di hati cinta
cinta itu ketiadaan
aku-ku

________________________________________________
@ Imron Tohari _ lifespirit 18 July 2011

OBITUARI

lukisan by http://jankarpisek.cz/img/paintings_20056/africky_archetyp.jpg




OBITUARI

Seorang lelaki berjalan tergesagesa menuju tanah lapang yang di atasnya tumbuh rerumputan hijau berbalur embun yang entah kenapa semakin kutatap semakin aku terhisap untuk mengikutinya sampai pada akhirnya aku melihat dengan jelas lelaki berjalan tergesagesa itu tidak lain jiwaku yang lalu telimpuh memeluk epitaf bertulis telah dimakamkan airmata gelisah selama di Dunia.

Di antara hening yang bunyi tak sesuatu benih kebencian bisa tumbuh subur di ladang nurani manakala engkau lihat kelopak kamboja luruh satu demi satu memeluk tanah basah dan ianya mendengar suara kubur berkata bagaimana mungkin selama hidupmu kau bangun muralmural kota di keramaian pikiran dengan mengatasnamakan cinta sedang bahanbahannya engkau ambil dari gudang nafsu ke duniawian dan di dalam kubur hal seperti itu yang menjadikan ruh terpenjara kesakitan yang api.

Di tanah kubur lelaki yang berjalan tergesa-gesa itu yang tiada lain dari jiwaku melihat kelopak kamboja menggenggam erat sebutir embun sisa malam yang dari bibir gelisahnya kelopak kamboja itu membisik dan nyaris tak terdengar dan ianya membicarakan tentang cinta yang katanya tiada sesiapa bisa memahami sebenarbenarnya cinta kecuali jiwa mereka telah terlebih dahulu memahami nyanyian kubur.

@ Imron Tohari _ lifespirit 24 Juni 2011

Bulan Tersungkur Dalam Sangkar

lukisan by google



Bulan Tersungkur Dalam Sangkar


Maka, nafsu itu adalah hidup
Pikiran tumbuh di hutan api
Dan engkau, yang karenanya jiwa terbakar tak akan mendengar
nyanyian indera menuju ke Surga

Lalu, mesti dibagaimanakan kebahagiaan itu?

O, alangkah luas rahasia Kekasih,
saat engkau dilahirkan, saat itu pula
udara yang engkau hisap menjadi tangga
dan engkau mesti mendaki takdirmu
setapak demi setapak.

Duhai wahai diri yang kini tengah dijerat cinta
di mana hati merah
yang mengalir wangi sungai asmara?


__________________________________________
@ Imron Tohari _ lifespirit 19 June 2011