TENTANG KEDUKAAN
beratus tanya lelah kudengar, di pikiran
himpitan hidup demikian mudah mengubur suka
petang pun berjalan tergesa-gesa ke pagi
di celahnya, mimpi terjebak tak tahu mesti bagaimana
maka, di reranting kering, daun-daun melayuk
cuaca kian tak tentu, angin bergemuruh
lembar-lembar kalender mudah robek
sungguh, alam berseakan menjerit
perlihatkan jalan ke muara sepi, kita
sibuk berdagang nasib
tanpa ning
lupa Tuhan, untuk apa menjadikan insan hidup
(lifespirit,25 Feb 2012)
Tampilkan postingan dengan label puisi spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi spiritual. Tampilkan semua postingan
TENTANG KEDUKAAN
Diposting oleh
Imron Tohari
on Sabtu, 25 Februari 2012
Label:
kontemplatif,
puisi spiritual
/
Comments: (2)
RISALAH HATI
Diposting oleh
Imron Tohari
on Senin, 16 Januari 2012
Label:
puisi spiritual,
puisi spiritual kontemplatif,
puisi sufistik
/
Comments: (0)
Ini risalah dari kalbu
Memuisikan Engkau
Rindu tak berkesudah
Ombak pasang gejolak asmaraku
Nyatanya tak cukup tinggi melebihi kasihMu
Tiap kali kuronce doa
Oh, air mata yang menetes
Hanya diam ke hening
Adalah ketakberdayaan
Ringan kapas dihembus angin
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un
(Imron Tohari , lifespirit 17 January 2012, pukul 2,14 Wita)
Memuisikan Engkau
Rindu tak berkesudah
Ombak pasang gejolak asmaraku
Nyatanya tak cukup tinggi melebihi kasihMu
Tiap kali kuronce doa
Oh, air mata yang menetes
Hanya diam ke hening
Adalah ketakberdayaan
Ringan kapas dihembus angin
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un
(Imron Tohari , lifespirit 17 January 2012, pukul 2,14 Wita)
Lupa Masa Lalu
Diposting oleh
Imron Tohari
on Selasa, 13 September 2011
Label:
puisi kehidupan,
puisi spiritual,
puisi spiritual kontemplatif,
puisi sufistik
/
Comments: (0)
Lupa Masa Lalu
ranum buah di pohon
malam merajut mimpi
tak sadar petang berjalan ke pukul lima
sedari tadi angin mengetuk pintu
kini pergi membawa lelah
sekejap, embun di dedaunan terkesiap
di atas menara ribuan dengkur menggelar tikar
mestikah seperti itu mengharap perjumpaan,oh,kekasih?
ketika musim retakkan tanah
pohon kurus tanpa daun: tiada buah
tengah malam nyanyian rindu menyayat-nyayat
_______________________________________________
@ Imron Tohari – lifespirit, 12 September 2011
ranum buah di pohon
malam merajut mimpi
tak sadar petang berjalan ke pukul lima
sedari tadi angin mengetuk pintu
kini pergi membawa lelah
sekejap, embun di dedaunan terkesiap
di atas menara ribuan dengkur menggelar tikar
mestikah seperti itu mengharap perjumpaan,oh,kekasih?
ketika musim retakkan tanah
pohon kurus tanpa daun: tiada buah
tengah malam nyanyian rindu menyayat-nyayat
_______________________________________________
@ Imron Tohari – lifespirit, 12 September 2011
Jiwa yang Pencar
Diposting oleh
Imron Tohari
on Rabu, 24 Agustus 2011
Label:
Puisi kontempelatif,
puisi spiritual,
puisi sufistik
/
Comments: (0)
o, kekasih
di pinggir pantai
kulihat sebongkah karang sepi sendiri
ombak menghantam. buih-buih
pencar, menyerpih
terbang bersama angin
bertanyatanya cinta
aku serupa menakar rasa
kebencian dan kerinduan
ketulusan juga kemunafikan
pada jiwa yang sunyi,o,kekasih
sebongkah karang itu
tadinya tegar
kini tenggelam tak berdaya
o,kekasih
ketakutan menyadarkan jiwa
jika malam adalah malam penuh misteri
adakah bedanya ada dan tiada debur ombak
saat aku bakar nafas agar merambat ke langit
tapi angin meniupnya
---pencar !
________________________________________
@ Imron Tohari _ lifespirit 10 Juli 2010
di pinggir pantai
kulihat sebongkah karang sepi sendiri
ombak menghantam. buih-buih
pencar, menyerpih
terbang bersama angin
bertanyatanya cinta
aku serupa menakar rasa
kebencian dan kerinduan
ketulusan juga kemunafikan
pada jiwa yang sunyi,o,kekasih
sebongkah karang itu
tadinya tegar
kini tenggelam tak berdaya
o,kekasih
ketakutan menyadarkan jiwa
jika malam adalah malam penuh misteri
adakah bedanya ada dan tiada debur ombak
saat aku bakar nafas agar merambat ke langit
tapi angin meniupnya
---pencar !
________________________________________
@ Imron Tohari _ lifespirit 10 Juli 2010
Dalam Doa
Diposting oleh
Imron Tohari
on Sabtu, 20 Agustus 2011
Label:
Puisi kontempelatif,
puisi spiritual,
puisi sufistik
/
Comments: (0)
lukisan by google
Dalam Doa
Ramadhan
Ini waktu menginjak hari ke 21
Biji-biji tasbih ranum embun ma’rifat
Alam kian menyemesta
O, Tuhanku
Cahaya maha Cahaya
Degup jantung ini demikian kencang
Airmata leleh
Dalam ketidak mahaberdayaan
Jiwa yang pencar
Tersungkur
O, Tuhanku
Cahaya maha Cahaya
Biar terbata membaca kitabMu
Hati cintaku kian menggebu
Menyebut asmaMU
_________________________________________
@Imron Tohari – lifespirit 20 August 2011
Dalam Doa
Ramadhan
Ini waktu menginjak hari ke 21
Biji-biji tasbih ranum embun ma’rifat
Alam kian menyemesta
O, Tuhanku
Cahaya maha Cahaya
Degup jantung ini demikian kencang
Airmata leleh
Dalam ketidak mahaberdayaan
Jiwa yang pencar
Tersungkur
O, Tuhanku
Cahaya maha Cahaya
Biar terbata membaca kitabMu
Hati cintaku kian menggebu
Menyebut asmaMU
_________________________________________
@Imron Tohari – lifespirit 20 August 2011
Jalan Hakikat
Diposting oleh
Imron Tohari
on Rabu, 17 Agustus 2011
Label:
Puisi kontempelatif,
puisi spiritual,
puisi sufistik
/
Comments: (0)
lukisan diunduh dari literature.wordpress.com
Jalan Hakikat
Ku-titipkan
kepedihan
kesukaan
pada awal
pada akhir
Di sana …
aku dan kekasih tiada
menyatu
pada keadaan
membebaskan roh jiwa melangkah
dalam lorong-lorong kematian
Di ladang Kekasih
o,ketakutan itu serupa biji palawija
berebut tumbuh
dengan hasrat yang api
menjadikan airmata langit mengalir
mengkristal
menjadi segumpal hati
dan ianya, airmata langit itu
kekasih
aku
_________________________________________
@ lifespirit 19 January 2009/rev 17 Agustus 2011
Jalan Hakikat
Ku-titipkan
kepedihan
kesukaan
pada awal
pada akhir
Di sana …
aku dan kekasih tiada
menyatu
pada keadaan
membebaskan roh jiwa melangkah
dalam lorong-lorong kematian
Di ladang Kekasih
o,ketakutan itu serupa biji palawija
berebut tumbuh
dengan hasrat yang api
menjadikan airmata langit mengalir
mengkristal
menjadi segumpal hati
dan ianya, airmata langit itu
kekasih
aku
_________________________________________
@ lifespirit 19 January 2009/rev 17 Agustus 2011
Dalam Pencarian Tuhan
Diposting oleh
Imron Tohari
on Minggu, 08 Mei 2011
Label:
Puisi kontempelatif,
puisi spiritual,
puisi sufistik
/
Comments: (0)
lukisan by google

Dalam Pencarian Tuhan
Biar matahari hanya untuk siang
Bukan berarti dia tiada kala malam
Kecuali ianya meringkuk di sebalik awan langit
Biar bulan hanya untuk malam
Bukan berarti dia tiada kala siang
Kecuali ianya meringkuk di sebalik awan langit
Di sudut bumi belah setengah
Masih perlukah mempertanyakan lagi
Ada dan tiada
Maujud dan tak maujud
Siapa berhasrat meneguk niat membimbing cahaya rasa,*
mengubah kidungan langit demi peribadatan,*
tapi mereka enggan penasaran*
Lalu pikiran dan keyakinan serta merta beradu dentam
Diantara siang dan malam hasrat duniawi menikam-nikam gairah
___________________________________________________________________
@ Imron Tohari _ lifespirit 17 April ‘08/8 Mei’11
* dipetik dari karya Nurel Javissyarqi, “Kitab Para Malaikat” Antologi tunggal ; hal.90 – XV:LXIX.

Dalam Pencarian Tuhan
Biar matahari hanya untuk siang
Bukan berarti dia tiada kala malam
Kecuali ianya meringkuk di sebalik awan langit
Biar bulan hanya untuk malam
Bukan berarti dia tiada kala siang
Kecuali ianya meringkuk di sebalik awan langit
Di sudut bumi belah setengah
Masih perlukah mempertanyakan lagi
Ada dan tiada
Maujud dan tak maujud
Siapa berhasrat meneguk niat membimbing cahaya rasa,*
mengubah kidungan langit demi peribadatan,*
tapi mereka enggan penasaran*
Lalu pikiran dan keyakinan serta merta beradu dentam
Diantara siang dan malam hasrat duniawi menikam-nikam gairah
___________________________________________________________________
@ Imron Tohari _ lifespirit 17 April ‘08/8 Mei’11
* dipetik dari karya Nurel Javissyarqi, “Kitab Para Malaikat” Antologi tunggal ; hal.90 – XV:LXIX.
Hakikat Tentang Keyakinan
Diposting oleh
Imron Tohari
on Rabu, 04 Mei 2011
Label:
Puisi kontempelatif,
puisi spiritual,
puisi spiritual kontemplatif
/
Comments: (0)
lukisan by google

Hakikat Tentang Keyakinan
Meyakini keberadaan Kekasih
seperti saat menatap ketinggian langit yang
dipenuhi gumpalan awan putih, ada, namun tak tersentuh
Duhai wahai engkau yang tengah dijerat cinta
Dalam diri orang-orang tak ber-Tuhan pikiran itu kuasa
berkehendak atas keinginan-keinginan
lalu mereka, orang-orang tak ber-Tuhan itu serempak berkata
bila pikiran yang menjadikan pengetahuan berkuasa akan hidup
iakah mesti jiwa ini tersalib Tanya akan Kekasih?
O, duhai wahai engkau yang tengah dijerat cinta
diperjalanan spiritual keheningan itu kristalisasi sunyi
Dalam diri orang beriman, seperti halnya hafiz
juga para pencinta
menemu keberadaan rumah Kekasih
mesti rela meninggalkan kebun-kebun pikiran
yang pohon buahnya ranum duniawi
dan membiarkan jiwa berjalan melewati lembah
dengan kanan kirinya berserak burung-burung pemakan bangkai
__________________________________________________________
@ Imron Tohari _ lifespirit 4 Mei 2011

Hakikat Tentang Keyakinan
Meyakini keberadaan Kekasih
seperti saat menatap ketinggian langit yang
dipenuhi gumpalan awan putih, ada, namun tak tersentuh
Duhai wahai engkau yang tengah dijerat cinta
Dalam diri orang-orang tak ber-Tuhan pikiran itu kuasa
berkehendak atas keinginan-keinginan
lalu mereka, orang-orang tak ber-Tuhan itu serempak berkata
bila pikiran yang menjadikan pengetahuan berkuasa akan hidup
iakah mesti jiwa ini tersalib Tanya akan Kekasih?
O, duhai wahai engkau yang tengah dijerat cinta
diperjalanan spiritual keheningan itu kristalisasi sunyi
Dalam diri orang beriman, seperti halnya hafiz
juga para pencinta
menemu keberadaan rumah Kekasih
mesti rela meninggalkan kebun-kebun pikiran
yang pohon buahnya ranum duniawi
dan membiarkan jiwa berjalan melewati lembah
dengan kanan kirinya berserak burung-burung pemakan bangkai
__________________________________________________________
@ Imron Tohari _ lifespirit 4 Mei 2011
TAHAJUD SUNYI ( Dalam dua versi )
Diposting oleh
Imron Tohari
on Senin, 11 Oktober 2010
Label:
puisi kontemplatif,
puisi spiritual,
puisi sufistik
/
Comments: (0)

gambar http://krisbheda.files.wordpress.com/2010/09/images1.jpg?w=183&h=275
TAHAJUD SUNYI (1)
di jalan rindu panas yang api memanggang resah
purnama luka di sebalik awan mencari bayang kekasih
dari puncak bukit yang bersemayam dilekat jantung
angin bunting menyusuri sungaisungai keinginan
berharap suka cita tanpa luka derita
mengingat kekasih
malam memiliki ruang heningnya sendiri
tapi tujuh pintu di ketinggian langit tidak serta merta terbuka
di sana ada ketinggian roh dalam sunyinya doa
menakar tetesan perih pada rentan retak perigi kejujuran
o,diantara hiruk pikuk pasukan pikiran
jiwa siapa telimpuh di ujung simpul
melafal doa seperti mata pecinta menatap gugur
dedaun memeluk tanah
_______________________________________________
@ Imron Tohari_lifespirit, 7 Oktober 2010
TAHAJUD SUNYI (2)
jalan rindu panas yang api
memanggang resah
purnama luka di sebalik awan
mencari bayang diri
angin bunting menyusuri sungaisungai
keinginan
berharap suka cita tanpa luka derita
diantara hiruk pikuk pasukan pikiran
malam memiliki ruang heningnya sendiri
tapi tujuh pintu langit tidak serta merta terbuka
di sana, ada ketinggian roh dalam sunyinya doa
menakar tetesan perih pada rentan retak-
perigi kejujuran
o,mengingat kekasih
jalan doa beribu jarak bertebaran onak duri
lalu jiwa siapakah itu telimpuh di ujung simpul
melafalkan doa seperti mata pecinta menatap gugur
satu
satu
___________________________________________________
@ Imron Tohari_lifespirit, 7 Oktober 2010, pukul 23.15 Wita
Mengeja Detik
Diposting oleh
Imron Tohari
on Jumat, 01 Oktober 2010
Label:
(kolaborasi),
kontemplatif,
puisi spiritual
/
Comments: (1)

Foto : Tedja "KEJORA" Alhabd
Mengeja Detik
malam gelap memintal bulan
tubuh-tubuh kecil tidur lelap
tapi mata tua melompat
menyeret air mata. di bilik
suara tokek
memanggil-manggil mengeja detik detak duka nestapa
sayup pada pucuk rindu
seorang tua mengutip kata yang tercecer dalam
penantian dua sahabat yang menjemput pada perjalanan panjang
di selasar yang ada di mataku, doa riuh bergemuruh
sejuta cerita sejuta luka
kurasakan dalam geletar jiwa
dalam hening, mata ku katup
o...bersama-Mu
inginku waktu berhenti jua
di sepertiga malam menyonsong subuh
deras air mata membasuh rasa
kabut dan embun rebah
di pucuk kuncup daun-daun hijau
gemuruh suara semakin mendesak menyesak dada
──doaku
di titian embun
___________________________________________________________
@ Sajak bersulang Tedja “Kejora” & Imron “lifespirit”, 1 oktober 2010
se·la·sar n 1 serambi atau beranda (ada yg tidak beratap); 2 bagian balai yg terendah tempat rakyat atau pegawai rendah menghadap
