Malam yang Ritmis




Lukisan karya CHU SIN SEDYAKARA, bali
di unduh melalui google : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjK0F4qEVn3G7JOmcZR28CPZHeV0Dj9pkGb_l2V_josFze8N3clZ92BomIhp3tqvlgdDFmSwY-q4VfNBhF8lMaPMinht5wdhSMlY2brSr2tjL2EdhEcSjTU38AvUHRobXE_E7Jw0UwMud-t/s400/sumberilmu.info...lukisan+modern+dullah.gif

Malam yang Ritmis

bulan memucat
angin dingin berdesir
kutatap dedaunan
; menyuling embun
di rimbun petang itu
benarbenar mengusik
“Kenapa kau mencintaiku?”

o,kenapa,o masih ngiang
; kau ucap sebaris kalimat kala
kau titipkan airmatamu di mataku, Ku

tersudut
dalam bait-bait sunyi
kuterjemahkan rasa
pada bilik-bilik sajak
kupunguti senyummu
kian purba

mengenangmu
tak ubahnya malam yang langut
menyanyikan nyanyian bulan
menatap sepasang angsa
menari-nari
di tengah telaga
; tiba-tiba jatuh sebatang ranting
plung…


____________________________________________________
@ Imron Tohari_ lifespirit , 23 February 2010

la•ngut, me•la•ngut; merasa rindu (sedih, kasih, dsb)
rit•mis; ada ritmenya; berirama

PURNAMA SURAM TERTUTUP AWAN (Badra Erawan)




Gambar diunduh dari mesin google : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtFSxQe0Jek_BD2GNEsGP5D4e85anjweSMzcWXSH5ycT-XvvAPwtw1xCOWIbiXEitJ-uIOBMwc9mYyM54rnWudvk4UM7pupSiJitGEeuEy7oKp2_yEmzIecPlvtZ5gbAC0dPXIFra8Rtw/s1600/destarata.bmp

PURNAMA SURAM TERTUTUP AWAN (Badra Erawan)

#1

: Astinapura
Di pasar-pasar
Di warung-warung kopi
Di tempat-tempat sekolah
Di kamp-kamp militer
Di parlemen-parlemen
Bahkan di tempat-tempat prostitusi
Tiba-tiba semua pada demam lagu joshua
“Diobok-obok airnya diobok-obok
ikan-ikannya besar kecil jadi pada mabok”

Pun
Destarata yang mendengar dengan telinga hati
trenyuh; keringat rakyat mengucur berdarah-darah
Air susu Pertiwi menghilang entah
“Ke mana melangit tinggi,
sedang Korupsi membudaya”


Gas gegas; Destarata berfikir
Hanya!


#2

: Hempak merbayaksa*)
Seratus kursi tak cukup rupa
Perlu mendulang tuk isi dalung**)
Dalung,o,dalung
Menasbih diri ; Destarata
Hunus pedang tajam siapkan pandora
Berharap jelata jadi sejahtera…
Bas tebas; siapa tertebas; o, siapa menebas siapa


#3

:Kawah Chandradimuka
amuk api seamuk-amuk
lidah menjulur; menjilatjilat nurani
membakar tatanan para dewata

ada apa di Marcapada?

Jagat nyata bukan Jagatnata
Khabar merebak menggunung isu; Dursasana
Dibidik intrik
Terima upeti dari sang mpu
Mpu tantular; katanya
Katanya,o,katanya
Destarata tertampar wajah
Citra raja terancam gibah
Bermimbar dengan wajah memelas
Tangan kiri bertasbih,tangan kanan menetak Kalam; Terjerat citra

“itu fitnah terkejam pada keluarga keraton” Katanya!

( seorang penonton di pojokan pekarangan kaget, kecewa pada sang dalang. Harapannya dalang akan berkata :” Jika kelak terbukti Dursasana terima suap, biarlah aku sebagai bapaknya yang akan membuka gembok penjara untuknya”)

______________________________________________________________________________
@ Meng “Zappra” Sucarman & Imron “lifespirit!”Tohari, 20 February 2010

*) Hempak merbayaksa – semacam rapat paripurna
**) Dalung – tempat menanak nasi terbuat dari tembaga atau tanah (nasi liwet)

YANG TAK NGUNGUN jadi NGUNGUN



gambar diunduh melalui google : http://wayangprabu.com/2008/03/10/ramayana-bagian-5-goa-kiskenda/

YANG TAK NGUNGUN jadi NGUNGUN


1#

Sengkarut di Guha Kiskenda, Hanoman juling
Geleng-geleng; Para wanara sibuk kasak-kusuk
Bisik-bisik lewat bulunya
katanya...katanya : sepuluh,sebelas sisir pisang masuk pundipundi
pundi siapa; siapa pundi?


2#

Ngungun ; Sugriwa cemas
menanti Subali usai laga lawan angkara durjana
sementara Anggoda dan Anggoyo mendengkur pulas
bukan lagi sisir yang mereka makan; tapi tandan
yang membuat Hanoman mencak-mencak
adakah para wanara kebagian daun?
pelepah ?
atau bonggolnya?


3#

Hanoman ngungun
Sugriwa ngungun
Para wanara ngungun
Anggoda dan Anggoyo ngungun
Semua ngungun
ngungun semua
yang gak ngungun; jadi ngungun
Sisir,tandan pun

:ngung(un)

_________________________________________________________________________
@ Meng “ZAPPRA” Sucarman _ Editing by Imron “lifespirit” Tohari, 20 February 2010

Goa Kiskenda; sebuah goa besar yang di dalamnya berbentuk seperti istana, tempat tinggal Maesasura dan Lembusura, dua makluk kakak beradik, berbadan manusia berkepala binatang, Durjana nan sakti mandraguna.

ngungun ; termanggu ; menatap dengan tatapan kosong ; tercenung diantara ketidakpastian dan harapan dll yang searti

ngung ; tiruan bunyi sesuatu yang berdengung

Sangkan Paraning Dumadi



Gambar diunduh : http://images.google.co.id/imglanding?q=tangga%20langit&imgurl=http://denisrahadian.files.wordpress.com/2008/03/heavenstairs.jpg&imgrefurl=http://denisrahadian.wordpress.com/2008/03/24/teknik-memotivasi-diri/&usg=__MhX6rm3p6UZaBeruReKJHHQvPJo=&h=332&w=500&sz=106&hl=id&um=1&itbs=1&tbnid=QoTSDki13XgERM:&tbnh=86&tbnw=130&prev=/images%3Fq%3Dtangga%2Blangit%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-a%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26sa%3DN%26um%3D1&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-US:official&sa=N&um=1&start=0#tbnid=QoTSDki13XgERM&start=2

Sangkan Paraning Dumadi


terkikis satusatu
diantara dua kutub
usia tak lebih dari
buaian; mengayun
dalam kedalaman cawancawan tanya
memetik hijau daun
pada alam ruhku
pun
saat Kekasih mengecupku, di sana
- telah kurebahkan ruhku di atas kafan bersajadah

Rindui aku, aku rindu tiada kepalang: Sungguh
Segera dan segeralah datang !
; pecahkan nadiku
; kapak nafasku

O biar bersenyawa
Ruhku menyetubuhi sekarat, kerna
aku : buhul* yang mengikat lonceng keyakinan
di Awal dan Akhir

dan jasad, rarai**
ruh melayang
- hilang di balik rerimbun ilalang
tiada lain kesakitanku, selain
; kerinduan : Aku

__________________________________________________________________________________
@ Imron Tohari “lifespirit” & DaveSky “Sangga Langit” 26.02.09 ( rev. 17 February 2010 )

sangkan paranig dumadi ( Filosofi Jawa ) ; mengingat hakikat asal mula manusia dan tujuan asasi terakkhirnya (tujuan yang bersifat mendasar)

*b u hul ; simpul pada tali

** rarai ark, merarai v melarai; melerai;
memisah

Berhala Cinta




Gambar diunduh dari mesin google

mataku ngungun
melihat bulan tersenyum
detak nafas mengetuk rindu

suka derita silih bersapa; keluh
malam malam menepi
kemarau hati mengusik
nurani
lantunkan ayat-ayat syurgawi

o,hening
o,malam

menaiki sampan ma’rifat
berkaca wajah
air meriak
tak utuh
cinta lesap
naifnya dosa

“ membanggakan kelebihan diri
tiada cukup takaran malu
di mata-Mu”


jiwa langkau; hingga melumut
sedu sedan
batu tak! Belah


______________________________________
@ Imron Tohari _ lifespirit 17 February 2010

langkau, melangkaui v melampaui;
melewati (melewatkan)

ESAI RINGAN "PUISI" ; Detak Bahasa di antara Pencipta Puisi dan Apresiator Puisi _ bagaimana menurut anda?

PUISI ; Detak Bahasa di antara Pencipta Puisi dan Apresiator Puisi



Bahasa sebagai salah satu sarana komunikasi seni, baik secara langsung maupun tidak langsung,begitu sangat dinamis.Dengan “bahasa” kita bisa mencari kedekatan secara emosional kepribadian masing-masing individu, yang dapat dikatakan mempunyai karakteristik dalam berbahasa yang cukup beragam.Dengan bahasa, setiap individu bisa saling berinteraksi dalam menangkap debar-debar emosi/rasa yang tak berujud yang ingin disampaikan padanya oleh individu lainnya. Dengan bahasa dan atau symbol-symbol bahasa, kita bisa menyampaikan pemikiran/opini dengan harapan tercipta imaji-imaji baru yang bisa mempengaruhi pola piker penerima pesan bahasa tersebut.

Untuk itu, bila kita berbicara puisi, maka tidak bisa terlepas dengan yang kita sebut bahasa, dan atau instrument bahasa (symbol tanda baca dan hal yang terkait dengan fungsi bahasa). Yakni bahasa sebagai sarana menangkap wujud puisi.

Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poesis, yang berarti membangun, membentuk, membuat, menciptakan.

Berkenaan tentang beragamnya pendapat mengenai apa definisi dari puisi, Shahnon Ahmad (Shanon bin Ahmad, Haji, Datuk) sastrawan Negara serumpun yang LAHIR : 13 Januari 1933 di Banggul Derdap, Sik, Kedah Darul Aman, mengumpulkan definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantik Inggris berikut (dikutip dari buku Pengkajian Puisi oleh DR. Rahmat Djoko Pradopo) sebagai:

- Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.

- Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.

- Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.

- Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturu-turut secara teratur).

- Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.

Dari definisi-definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah. Shahnon Ahmad menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang puisi itu sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.

"Puisi seolah bayang diri: ada tapi sukar dan bahkan tak terpegang maknanya. tiada tapi ada. ada tapi tiada. puncak puisi, maka, adalah tuhan itu sendiri. turunannya adalah roh kita. turunannya dikit lagi adalah bahasa, pada ketinggiannya: pengasingan benda benda, seolah roh yang tak ingin terlihat, walau dalam tubuh." Tulis Hudan Hidayat, salah satu dari sekian sastrawan terkemuka tanah air yang begitu itens membimbing talent-talent berbakat yang banyak bertebaran di dunia sastra maya dewasa ini.

Terlepas dari pendapat para pakar tersebut, saya lebih suka menyebut “puisi” sebagai rainkarnasi bahasa hati,pikiran ( samsara bahasa ) dari masing-masing pribadi/individu pengkarya cipta yang dituangkan ke dalam bentuk bahasa tulis pun lisan yang pada akhirnya menciptakan letupan-letupan imajinatip di alam imajinasi pengkarya cipta itu sendiri maupun penikmat baca/apresiator puisi. Di mana muatan emosi “puisi” sangat beragam, ada suka ada duka, ada kegembiraan ada kemarahan. Puisi sebagai permainan bahasa, mentranslate rasa/gejolak jiwa, melalui selubung simbol-simbol, atau tanda-tanda yang terangkum pada larik/baris/bait dalam menyampaikan pesan gejolak rasa jiwa dari penulis/penyair, yang merupakan hasil dari saripati sunyi ( baca: perenungan! ).

Kenapa saya lebih senang menyebut “puisi” sebagai rainkarnasi bahasa atau samsara bahasa?

Samsara sebagai kata sifat mempunyai arti sengsara dalam konteks tanda kutip ( berdasarkan kamus bahasa Indonesia ),samsara berdasarkan yang termaktub pada surat Bagavad-gita (Budha)dan Weda ( Hindu ) samsara berarti kelahiran kembali/reinkarnasi, namun dalam kelahiran kembalipun (samsara ) , yang merupakan perpindahan jiwa ini dari satu tubuh ke tubuh yang lain atau disebut reinkarnasi eksternal (samsara atau samsriti didalam bahasa sansekerta). Srimad Bhagavatam (Bhagavata Purana) 5.11.5-7 menyebutkan bahwa pikiran terikat oleh indera kesenangan, saleh atau tidak saleh. Kemudian hal itu tertuju pada tiga model dari alam material dan menyebabkan penyesuaian kelahiran dalam berbagai tipe tubuh, lebih tinggi atau lebih rendah. Oleh karena itu, jiwa menderita ketidak bahagiaan atau menikmati kebahagiaan karena pikiran,kemudian pikiran di bawah pengaruh ilusi menciptakan aktivitas-aktivitas yang saleh dan aktivitas-aktivitas yang tidak saleh, ( berdasarkan ajaran agama Budha ) dan pengertian akan samsara ini juga tidak jauh beda dengan apa yang ada pada ajaran agama Hindu ; di dalam Weda disebutkan bahwa "Penjelmaan jiwatman yang berulang-ulang di dunia ini atau didunia yang lebih tinggi disebut Samsara. Kelahiran yang berulang-ulang ini membawa akibat suka dan duka. Dan juga akan dipengaruhi akan adanya karma baik dan buruk disaat-saat sebelumnya.Dari sudut pandang saya selaku orang Islam, yaitu kelahiran kembali dari kematian di akhirat kelak,dengan segala pertimbangan baik buruknya semasa kehidupan di dunia.

Begitu hal dalam setiap proses penciptaan puisi, dalam kesunyiannya pasti akan terjadi suatu pertarungan batin dan atau pertarungan piker pada diri pengkarya cipta ( pertarungan sinergi positip dan sinergis negatip). Puisi sebagai reinkarnasi bahasa/samsara bahasa, pada kelahirannya kembali, tidak terlepas dari proses/ritus suasana baik buruk yang mempengaruhi rasa imajinatip pengkarya ciptanya. Dalam pengertian, melalui puisi penyair berusaha menghidupkan imaji tersembunyi ke dalam tubuh “bahasa”. Tubuh bahasa dari bayangan diri, baik bayangan diri penyairnya maupun bayangan diri penikmat bacanya yang sudah menyatu pada bayangan puisi itu sendiri!, maka jadilah bayangan diantara bayangan; diri membayang pada puisi, puisi membayang pada diri. Dan puisi yang baik, adalah puisi yang ditulis dengan penuh ketulusan, serta tetap mengacu pada estetika moral, sehingga nantinya bisa memberi pencerahan positip dan atau bisa menciptakan pola piker baru yang baik bagi pencipta maupun apresiator yang membacanya.

Pada akhirnya puisi tetap merupakan suatu misteri yang menyelingkupi suatu bahasa rasa yang ingin diletupkan sang penyairnya dengan mengunakan simbol-simbol agar makna tidak secara langsung keluar dari tubuh bahasa puisi itu sendiri, puisi yang menjelmakan dirinya pada bahasa yang sunyi, puisi yang mensamsarakan dirinya pada kesakitan-kesakitan bahasa dalam rangka menemukan pemaknaannya sendiri.


”dari roh masa lampau
kutetak waktu
kudapati
; kematian serupa awal
kehidupan”



Salam lifespirit!

Kecipak Angsa dan Ritus Lilin



gambar diunduh https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5N3sOouidOR218QiIcbAVRWNJM51I9ythWXNn5_fQL7fQAuHVHrByWAMPk0VyVAhb3I2JUXOBfsAAEFXPVfO4jLRJLGxo2-na-1m7e-H2Ab4v6TCSlKjIA5Nmn5Ah_X3fIXG8GssxIhJy/s320/global+warming+candle.JPG

Kecipak Angsa dan Ritus Lilin


detak melafalz
tertanya
; kenapa tercipta
malam
siang

pada harihari
airmata; larung
di danau-danau hati
meriak
menatap angsa-angsa
berbulu putih
menari-nari

o,air
o,danau

jernih,keruh
;serupa sifat
;suara kecipak angsa-angsa

membedakan birama

empat puluh satu kali
tiupan nafas
nyala lilin
mengabu
aku

;merindurindu
bening
birama-Nya

_______________________________
@ Imron Tohari, 13 Januari 2010